Sinopsis
Sebuah keluarga tinggal di sebuah perumahan sederhaana Di Perumahan Batu Mulia yang tepatnya Jl. Permata No. 102. Keluarga tersebut terdiri dari ibu, ayah, Revina, Kania, Aldi. Mereka merupakan sebuah keluarga yang bertaraf sosial menengah. Sang ayah bekerja sebagai pegawai suatu perusahaan. Ibu seorang ibu rumah tangga yang selalu menyayangi dan melayani keluarga tersebut. Revina, Kania, dan Aldi mereka masih bersekolah.
Suatu hari, Ayah dan Revina berjalan menuju minimarket. Tiba-tiba ada kabar bahwa sang adik mengalami kecelakaan. Ayah dan Revina bergegas menuju tempat dimana Kania tertabrak.
Sesampainya di tempat kejadian mereka melihat kerumunan orang, mobil ambulan, mobil polisi dan sebuah mobil pribadi. Mereka berdua panik dan sang ayah langsung menuju kerumunan tersebut, ternyata yang tertabrak itu memang anaknya. Mereka tak berlama-lama disana, mereka langsung bergegas menuju rumah sakit menggunakan ambulan.
Kania mengalami luka parah yang mengharuskan masuk ke ruang IGD. Kania mengalami patah tulang di seluruh tulang belakangnya yang mengakibatkan Kania lumpuh total dan tidak bisa bernafas melalui hidung. Kania bernafas menggunakan selang yang dimasukan kedalam tenggorokan. Alangkah sedihnya keadaan itu harus dialami perempuan yang berparas cantik.
Kania mengalami koma beberapa hari. Di Rumah Sakit Kania selalu ditunggu oleh para keluarga, namun yang sepenuhnya menunggu adalah Sang ibu.
Selang beberapa hari Kania mulai siuman.
Sang ibu yang selalu mengurusi segala kebutuhan Kania. Dari mulai mengganti bajunya sampai buang air dilakukan oleh Ibu. Sang ibu sangat pengertian terhadap Kania yang menjadikan Kania bersikap tegar dan tidak putus asa.
Meskipun dengan kelumpuhan yang dialaminya, Kania bersikeras untuk tetap melanjutkan sekolah, meskipun banyak orang yang tidak setuju dengan pendapatnya. Pihak sekolah pun menyetujui Kania untuk bersekolah kembali, meskipun dengan menggunakan Kursi roda dan ibu mendampinginya. Setiap sekolah kania selalu pergi bersama ibu, segala sesuatu yang seharusnya dilakukan kania diambil alih oleh ibu. Dari mulai menulis sampai mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan dari sang guru. Namun semua itu atas perintah Kania. Meskipun keadaannya yang seperti itu, tidak menjadikan Kania kurang percaya diri. Di sekolahnya Kania berteman dengan banyak orang dan di sukai teman-temannya.
Dengan segala bantuan dan dukungan keluarga khususnya ibu, Kania menjadi anak yang pintar, sehingga Kania masuk di SMA Negeri terfaforit di daerahnya. Di SMA pun Kania kembali menjadi murid terpintar, dan mendapatkan beasiswa. Tidak hanya itu, dengan kegigihannya, kania mendapat panggilan masuk ke perguruan tinggi yang sangat diminati berbagai orang.
Namun masuk ke Perguruan Tinggi itu memerlukan banyak uang, sedangkan keluarganya hanya keluarga yang pas-pasan. Namun tak disangka-sangka ternyata panggilan tersebut merupakan panggilan khusus untuk Kania dan tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun. Tanpa berpikir panjang Kania dan keluarga menyetujui untuk masuk ke Perguruan Tinggi Tersebut.
Masuknya Kania Keperguruan tinggi itu menjadi masalah, karena letaknya yang jauh. Sehingga sang ibu pun harus mengikuti Kania untuk tinggal di asrama. Meski bagaimanapun anggota keluarga yang lainya harus menyetujui keputusan Kania dan Ibu.
Dengan tidak tinggalnya ibu di rumah, anggota keluarga merasa sangat risih terutama sang kakak, Revina. Ia menganggap bahwa semua perhatian dan kasih sayang diberikan kepada Kania. Dengan keadaan itu Revina menjadi anak yang pendiam dan minder. Namun revina mau tidak mau harus menyadari bahwa kenyataan itu sudah terjadi.
Diperguruan tinggi tersebut perkuliahan telah dimulai dan kania mengikutinya dengan didampingi oleh sang ibu. Di perguruan tinggi pun Kania menjadi mahasiswa terpintar dan disayangi teman-temannya dan para dosen. Ada satu orang yang sangat akrab dengannya yaitu Gina. Kania dan Gina tak ketinggalan ibu, selalu bersama kemanapun mereka pergi.
suatu hari kania sedang berkumpul dengan Gina, sedang asik-nya mengobrol datang seorang lelaki yaitu kekasihnya Gina, ia mengajak Gina untuk nge-date. Setelah itu Kania berfikir, “apakah akan ada seorang lelaki yang datang kepadaku dan mencintaiku?” dari situ Kania mengalami keputus asaan. Namun keputus asaan itu hilang karena ada seorang lelaki yang mengajak Kania untuk makan malam bersama. Lelaki itu bernama iqbal, ia sangat Pengertian terhadap Kania. Kania pun berharap lebih kepadanya, namun perasaan itu tak kunjung di sampaikannya sampai mereka menyelesaikan gelar S1-nya.
Dengan tamatnya perkuliahan, maka selesai pula pertemuan kania dan iqbal. Kania sangat sedih dengan kenyataan itu, namun ia berusaaha untuk tegar dan Kania berfikir bahwa suatu saat pasti akan ada seorang lelaki yang datang kepadaku, karena jodoh itu di tangan Tuhan.
Prestasi Kania tidak berhenti disitu, pada acara perpisahaan pun Kania menjadi perwakilaan angkatan untuk menyampaikan pidato. Kania menyampaikan bahwa jangan pernah berputus asa, karena suatu saat pasti ada jalan keluarnya. Para hadirin yang hadir di acara itu hidmat mendengarkan pidato kania. Stelah selesai berpidato para hadirin bertepuk tangan untuk Kania, karena mereka bangga terhadap apa yang telah Kania capai.Maka dengan berakhirnya perkuliahan ibu dan Kania akan kembali kerumah. Mereka berdua dijemput oleh Ayah, Revina dan Aldi. Mereka semua merasa senang dengan kembali berkumpulnya keluarga. Namun pada Kania ada sedikit sedih yang menempel, karena ia berpisah dengan Iqbal. Di samping kegembiraan itu kania bertekad untuk melanjutkan kuliahnya menuju jenjang S2.
Selasa, 28 April 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
